Ikhwanul Muslimin Telah Menunggu Lama, Perang Peradaban dan Puncak Ujian Politik (3)

Redaksi – Jumat, 2 Agustus 2013 11:01 WIB

mursiiiiHakekat Perang Peradaban

Hakekat lain yang perlu kita ketahui, terkait konflik politik di Mesir saat ini. Percaya atau tidak percaya, suka atau benci, apa yang terjadi di Mesir adalah perang peradaban sesungguhnya. Bahkan konflik ini sebenarnya bukan menghadapi militer Mesir di bawah Jendral As Sisi, tetapi konflik menghadapi The New World Order itu sendiri.

Kita tahu, sejak Mesir merdeka, atau sejak Gamal Abdun Naser mengendalikan Mesir pada tahun 1952, negara itu sudah tidak memiliki kemandirian. Apalagi sejak ditanda-tangani Perjanjian Camp David antara Mesir dan Israel. Sejak itu posisi Mesir tak lebih sebagai “anjing penjaga” kepentingan Zionis Israel. Mesir menjadi sekutu paling setia Israel dari kalangan dunia Arab.

Namun setelah Presiden Mursi menjadi Presiden, sejak 30 Juni 2012, Israel merasa sangat ketakutan kehilangan sekutu paling setianya. Seperti diketahui, salah satu missi berdirinya gerakan Ikhwanul Muslimin sejak era pendirinya, Syaikh Hasan Al Banna, ialah merebut kembali tanah Palestina yang telah dirampas oleh Yahudi Israel. Hal itu juga terkait dengan amanat yang pernah dititipkan oleh Sultan Abdul Hamid II rahimahullah dari Khilafah Turki Utsmani. Beliau tak mau menyerahkan tanah Palestina ke tangan konsorsium Zionis di bawah ketuanya Theodore Hertzl, karena ia adalah tanah wakaf milik Ummat Islam.

Presiden Mursi menjadi sasaran yang harus dijatuhkan secepat mungkin, berapapun harganya, adalah demi melindungi kepentingan Israel. Jika Mesir terus berada di bawah kendali kepemimpinan Ikhwanul Muslimin, maka posisi Israel akan sangat terancam. Pastilah pemimpin Al Ikhwan akan bergerak menuju satu tujuan, untuk membatalkan Perjanjian Camp David. Lambat atau cepat itu akan tercapai.

Maka posisi konflik politik di Mesir saat ini sangatlah krusial. Kita kaum Muslimin (terutama diwakili para pejuang Ikhwanul Muslimin) ingin merebut Mesir dan menyelematkannya agar tidak menjadi “anjing penjaga” kepentingan Zionis Israel; sementara Jendral As Sisi, militer Mesir, gerakan Tamarod, media-media massa sedunia (termasuk media-media sekuler di Indonesia), Amerika, Uni Eropa, dan seterusnya menginginkan Mesir tetap melayani kepentingan Zionis Israel. Terjadi tarik-menarik yang sangat kuat dan potensi konfliknya begitu besar. Gerakan Al Ikhwan seperti Musa ‘Alaihissalam yang sedang menghadang “imperium Fir’aun” (baca: New World Order).

Lihatlah wahai Muslimin, lihatlah wahai Mukminin, apakah ini konflik yang kecil? Apakah ini sebatas konflik seputar demokrasi dan jabatan presiden saja? Anda bisa simpulkan sendiri.

Puncak Percobaan Politik

Kita jangan menyalahkan para pemimpin Ikhwanul Muslimin di Mesir jika saat ini mereka gigih berjuang Fi Sabilillah untuk memenangkan pergumulan politik sangat strategis. Mereka sedang mewakili kaum Muslimin sedunia untuk meruntuhkan “payung perlindungan” yang selama ini memayungi eksistensi negara Yahudi, Israel. Jika kendali politik Mesir berhasil direbut sehingga tidak lagi melayani Yahudi, maka eksistensi Israel di Timur Tengah akan semakin lemah.

Dari sisi pengalaman politik internal, apa yang dialami Ikhwanul Muslimin saat ini bisa dianggap sebagai saat-saat kritis menuju cita-cita politik mereka. Kita tahu, sejak era Syaikh Hasan Al Banna rahimahullah, Al Ikhwan sudah memasuki panggung politik di Mesir. Sejak itu mereka mengalami banyak sekali turbulensi (guncangan) politik. Para pemimpin Al Ikhwan banyak mengalami eksekusi mati di tangan militer Mesir, seperti Sayyid Quthb, Albdul Qadir Al Audah, Kamal As Saraniri, dan lain-lain rahimahumullah jami’an. Belum lagi yang mengalami siksaan-siksaan fisik di penjara.

Apa yang terjadi di Mesir saat ini adalah sebuah momen yang sekian lama ditunggu oleh para pemimpin Al Ikhwan. Mereka selama 60 tahun terakhir telah bersabar, telah menahan diri, telah mengekang segala ambisi, demi mendapatkan momen besar untuk mewujudkan cita-cita besar, membangun kehidupan rakyat Mesir yang adil, sentosa, sejahtera, dan bermartabat.

Pemimpin-pemimpin A Ikhwan selama ini telah amat sangat bersabar menghadapi aneka cercaan dari luar dan keluhan-keluhan dari internal organisasi mereka sendiri. Mereka terus ditanya, “Kita melakukan tarbiyah, tarbiyah, dan tarbiyah terus. Lalu kapan berjuangnya? Masak harus tarbiyah terus selama-lamanya, sampai Hari Kiamat?” Masya Allah, kalau bukan karena ketakwaan dan kesabaran hati para pemimpin Al Ikhwan, pastilah mereka tak akan sabar menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Nah, kini momennya telah tiba. Perjuangan besar terhidang di depan mata. Kini saatnya para pejuang Al Ikhwan mengasah hasil-hasil pembinaan mereka di hadapan beban perjuangan sebenarnya. Insya Allah perjuangan mereka akan membuahkan hasil; pastilah Allah tidak akan menyia-nyiakan kesabaran, ketakwaan hati, dan pengorbanan mereka selama ini.

Sebagai sebuah entitas politik berbasis gerakan Islam, Al Ikhwan telah melalui masa-masa panjang penantian. Mereka telah melakukan aneka percobaan politik dan menanggung segala akibatnya. Kini mereka berada di puncak percobaan politik itu. Kita sebagai kaum Muslimin di luar Mesir harus memandang keadaan ini secara jernih. Jangan asal menyalahkan atau mengkritik saja. Pahami keadaan saudaramu, belalah mereka dalam batas-batas kemampuanmu, maafkan kekurangannya, mohonkan keteguhan hati dan kemenangan atas mereka.  Amin Allahumma amin.

Bersambung…

AM. Waskito. Penulis buku “Air Mata Presiden Mursi”.

Analisa Terbaru

blog comments powered by Disqus