Wanita Dan Sarung Tangan

Adityanugroho – Rabu, 1 Jumadil Akhir 1435 H / 2 April 2014 13:21 WIB

Pertama kali aku melihat sarung tangan adalah ketika berlangsungnya sebuah acara di sebuah pusat perbelanjaan. Seorang wanita cantik menggunakan sarung tangan. Semua jari-jemarinya terbungkus manis oleh sarung tangan yang juga manis. Dan penampilan sang wanita dengan memakai baju pengantin ala barat semakin semakin bertambah sempurna dengan sarung tangannya yang manis.

Kemudian kali kedua aku melihat sarung tangan dipakai oleh kawan mahasiswa yang ketika hendak beranjak pergi, helm selalu menutupi mulut dan hidungnya, lalu dilengkapi dengan sarung tangan kulit yang kemudian baru aku tahu ternyata sarung tangan itu berfungsi untuk membuat tangannya tidak licin karena berkeringat ketika memegang stang sepeda motor. Iya, karena bahaya jika terlepas pegangannya disaat hujan atau berkeringat, selain itu juga untuk menghindari panas matahari yang menabrak deras ke tangan sang pengemudi motor.

Kemudian kali ketiga aku melihat sarung tangan digunakan juga oleh pencuri. Pencuri itu menggunakan sarung tangan ketika masuk melalui jendela kaca rumahku. Tepat pukul 2 malam aku melihat sarung tangan hijau gelap mencoba mencari grendel pintu, dan mencoba membuka pintu. Aku yang saat itu masih kuliah dan suka bangun malam untuk mengerjakan tugas-tugas dari dosen, langsung terbangun dan segera ku ambil sapu sebelum sang pencuri berhasil masuk dengan membuka grendel pintu yang letaknya bersebelahan dengan kaca nako. Aku pukul dengan kuat tangannya yang memakai sarung tangan, lalu teriakan kecilnya membuat aku bersemangat untuk meneriaki si pencuri. Setelah itu aku tidak tahu lagi karena tubuhku gemetaran dengan sapu ditanganku dan malam itu menjadi malam yang heboh dan yang ku ingat hanyalah salah satu sarung tangan dari jenis yang lain.

Kemudian yang keempat ketika aku diajak ke sebuah tempat yang dingin. Berbagai model sarung tangan dikenalkan. Mula-mula pelapis untuk menghangatkan kulit, lalu sarung tangan wool, dan akhirnya aku menggunakan kaus kaki bila ternyata dinginnya begitu menusuk tubuh. Setelah itu baru memakai sarung tangan dari bahan kulit, jauh lebih hangat daripada sarung tangan wool walupun memang bentuknya menjadi tidak karuan karena membuat tangan menjadi bertambah besar dan tidak cantik.

Ide memakai sarung tangan terpikir ketika undangan reuni kawan-kawan lama berdatangan. Akh reuni, kalau mau diikutkan tak ada habisnya, juga hanya mengenang masa lampau, dan semua sikap kadang tidak pada tempatnya mengingat umur juga semakin bertambah dan wajah semakin banyak berubah, maka reuni merupakan hal yang agak malas untuk ku ikuti. Namun adakalanya reuni terpaksa juga aku ikuti dan kawan-kawan lama semasa jahiliyah dulu menepuk sana menepuk sini, bersalaman dan terkadang menggenggam. Dan akhirnya itulah yang aku takutkan ketika segerombolan lelaki mendekatiku. Dan Ya Allah… dulu aku adalah seorang ketua kelas maka para lelaki ini adalah yang sering aku marahi karena mereka sangat malas untuk membantu di kelas, tidak mau piket dan bahkan suka bikin kelas kotor sehingga aku sering dimarahi wali kelasku karena ulah mereka. Sekarang mereka mendekatiku untuk bertegur sapa, dan bagi mereka yang sekarang sudah menjadi pejabat, pengusaha, pengacara dan orang besar, semua sikap yang mereka lakukan padaku dulu ketika masih SMP begitu lucu dan indah rasanya. Tidak ada salahnya untuk mengambil foto bersama dan ber haha-hihi mengenang masa-masa lalu yang lucu dulu. Begitu kata salah satu diantara mereka yang aku mengnalinya bernama Bram, anak yang selalu melempariku dengan kapur secara diam-diam. Tak lama ohh serentak tangan-tangan terjulur dan berebut untuk bersalaman denganku.

Alhamduliiah aku teringat untuk menggunakan sarung tangan dari bahan yang lembut, sehingga walau harus terpaksa bersalaman dengan yang bukan muhrim, tanganku aman dari sentuhan kulit. Dan alhamdulillah mereka melihatku dengan wajah-wajah mengerti karena jilbab rapat yang menutupi kepala, baju gamis panjang yang ku sukai dan tak lupa sarung tangan dengan selingkar cincin pada jari tanganku serta jam tangan yang mengikat erat sang sarung tangan lembut agar tidak lepas saat dijabat erat, juga sebentuk gelang dari bahan dasar karet sehingga membuat sarung tanganku terikat manis pada lenganku. Minimal hari itu aku dapat berjumpa dengan mereka dalam pertemuan yang tidak berlangsung lama namun tidak sampai bersentuhan atau menyentuh siapapun berkat sarung tangan yang membungkus lenganku menghindari salaman yang mengakibatkan sentuhan kulit.

Dalam suatu hadist dijelaskan :

“Sungguh ditusuknya kepala salah seorang dari kalian dengan jarum besi, lebih baik baginya daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabrani)

Dan dari aisyah menguatkan lagi dengan pernyataan di bawah ini :

“Sesungguhnya aku tidak pernah menjabat tangan wanita.” (HR. Thabrani)

Wanita Bicara Terbaru

blog comments powered by Disqus