Sekeping Hati

Redaksi – Jumat, 19 Juli 2013 10:54 WIB

lenyap quranOleh : Anna Nur F (Ibu Rumah Tangga, Domestic Jannah)

Rala tertegun kaget. Seakan tak percaya dengan kenyataan di depan mata. Benar, selama ini sang suami pernah mengungkapkan kemungkinan untuk menikah lagi. Namun ketika menjadi nyata, kepalanya betul-betul pening. Hatinya sakit. Perih dan terluka. Jantungnya berdegup kencang. Perasaannya amat tak rela ada wanita lain yang mencintai dan dicintai suaminya. Sama sekali tak mau ia berbagi suami dengan wanita lain. Tak ingin waktu kebersamaan suami dengannya dan anak-anak berkurang untuk wanita lain, sekalipun itu adalah istri suaminya. Sebuah rencana besar berputar di kepalanya. Bagaimanapun ia harus memisahkan wanita itu dari suaminya. Akan ia kejar wanita itu untuk ia sakiti, agar bisa merasakan bagaimana sakit hatinya saat ini. Akan ia caci maki suaminya agar tahu betapa pedihnya “dikhianati”. Hatinya penuh dendam membara. Akan ia ceritakan segala perilaku suaminya, keburukannya, aibnya atau apapun tentang suaminya pada teman-temannya dan teman-teman suaminya. Pokoknya apapun akan ia lakukan untuk  membalas rasa sakit hatinya. Kalau perlu suaminya benar-benar hancur namanya. Akan ia jatuhkan suaminya hingga tak ada kebaikan yang tersisa. Kebenciannya sudah memuncak. Tak peduli lagi ia dengan dosa.

Miha terlonjak girang. Hatinya benar-benar puas. Segala rencana dan keinginannya yang telah disusun dengan susah telah tercapai. Ia senang bisa menginjak-injak harga diri lelaki yang telah menikahinya. Tujuannya menikah untuk mendapat status janda sebentar lagi tercapai. Pria mana siiy yang tahan memiliki istri yang tak mau melayani dalam segala hal. Mulai urusan dapur, sumur bahkan kasur. Dan yang penting ia puas. Baginya pria yang telah mau menikahinya adalah pria bodoh. Sudah tahu dirinya “gadis bukan janda bukan” dalam pandangan masyarakat, tetap nekad menikahinya meski harus melawan dan membohongi keluarga besar. Di mata Miha, lelaki bodoh yang mudah dimanfaatkan, buta dengan kecantikan wanita, layak untuk dihinakan.

Kary tersenyum sipu. Hatinya berbunga-bunga. Ia jatuh cinta lagi. Perasaannya menggebu tak menentu. Rindu, kangen, dan segala rasa bercampur baur menjadi satu. Saat si dia menelpon, dan sms adalah saat yang paling Kary nanti. Si dia yang tak lain adalah ayah anak-anaknya yang 4 th lalu telah menceraikannya. Sebuah perceraian yang amat menyakitkan. Yang karena begitu sakit hatinya kala itu, ia pun membeberkan segala hal perilaku suaminya pada teman-teman dan atasan suaminya hingga namanya benar-benar jatuh dan dipecat dari posisinya. Bahkan dengan sadar pun telah ia ceritakan rahasia kamarnya pada orang lain. Kini, ia jatuh cinta lagi pada lelaki itu, meski ia sendiri telah menikah dengan pria lain yang baik hati. Tak peduli dan malu lagi ia dengan pandangan orang yang tahu masa lalunya, dulu mencaci maki, penuh dendam dan menghinakan, tapi kini ingin kembali. Seringnya mantan suami menghubungi untuk menanyakan anak-anak, telah tanpa sadar menumbuhkan kembali benih-benih cinta. Obrolan hangat mantan suami, ia artikan bahwa mas Irfan telah membuka pintu hati dan memaafkan segala kesalahannya dulu. Kary sadar telah salah. Bermain api disaat ia adalah istri orang. Entahlah siapa yang lalai dan memulainya. Ia yang terlalu berlebihan atau mantan suami yang terlalu sering menghubungi. Sebuah ide menyeruak di hati. Kary ingin minta cerai pada suaminya sekarang agar bisa ia kembali lagi dengan Mas Irfan. Ia juga akan meminta Mas Irfan menceraikan istrinya. Yang penting ia bisa bahagia, tak peduli dengan orang lain. Obsesinya cuma satu, kembali menjadi istri Mas Irfan.

Cerita di atas hanyalah sebuah ilustrasi. Rala, Miha dan Kary adalah tiga sosok wanita yang ada di masyarakat. Mereka nyata. Contoh wanita keji dan jahat terhadap suami, yang puas ketika memperturutkan hawa nafsu. Sosok manusia yang hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri walaupun saat “ujian” menyapa. Tak peduli meski orang lain terdholimi dan tersakiti. Jumlah mereka pun tidak sedikit. Bahkan seiring jauhnya masyarakat dari aturan Islam, niscaya jumlahnya akan terus bertambah. Akan tumbuh Rala, Miha dan Kary baru dalam sistem pergaulan bebas saat ini.

Jika melihat fenomena di masyarakat, sosok Rala diwakili oleh para wanita penentang poligami. Padahal telah nyata poligami adalah hukum yang berasal dari Alloh. Sebagaimana termaktub dalam AlQuran surat An-Nisa ayat 3 sebagai berikut : ” Dan jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan lain yang kamu senangi : dua,tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisaa: 3).

Alloh yang Maha Pengasih dan Penyayang mustahil menurunkan syariat yang mendholimi wanita. Jadi bila mengaku cinta pada Alloh, harus bisa menerima syariatNya tanpa kecuali. Karena cinta tak cukup dalam kata tapi perlu pembuktian. Tak ada alasan untuk menolak poligami, untuk sakit hati ketika suami menikah lagi, kecuaIi ada alasan syari. ALLOH berfirman dalam AlQuran, ” Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. al-Ahdzab [33] : 36)

Sedangkan sosok Miha mewakili gadis-gadis yang memilih melakukan pergaulan bebas. Tak ada batas bergaul antara pria wanita. Hingga terbukalah pintu zina selebar-lebarnya. Hal-hal terlarang yang hanya boleh dilakukan suami istri dengan mudah dilanggar. Wanita mungkin adalah pihak yang paling dirugikan. Saat telah kehilangan kesucian, apalagi jika sampai berbadan dua maka biasanya segala cara akan ditempuh, untuk menyelamatkan dari aib dan rasa malu. Mulai dari menggugurkan kandungan hingga mencari sosok pria untuk menikahinya, jika ternyata sang pacar tak mau bertanggungjawab.

Sementara sosok Kary diwakili oleh wanita-wanita yang mencintai pria bukan suaminya. Dan jika dibiarkan terus menerus dapat menghancurkan kehidupan rumah tangga, dan akan menjerumuskan dalam perselingkuhan. Padahal perselingkuhan telah menjadi salahsatu pemicu meningkatnya angka perceraian. Pergaulan bebas yang tak lagi mempedulikan mana yang boleh dan mana yang tak boleh dilakukan antar lawan jenis menjadi sumbernya. Apalagi di era serba digital dengan kemajuan teknologi yang amat pesat seperti sekarang ini. Pergaulan tak terbatas di dunia nyata saja tapi juga dunia maya. Bila membaca berbagai media, akan ditemukan betapa banyak perceraian yang disinyalir terjadi akibat perselingkuhan. Perselingkuhan yang sudah amat nyata sebagai hal terlarang dalam Islam seperti yang termaktub dalam Alquran,” janganlah kamu mendekati perbuatan zina.”

Dari ketiga sosok wanita keji itu kita belajar. Mengambil ibroh agar jangan sampai terjerumus perilaku yang sama. Dengan sadar memilih untuk melakukan kemaksiatan. Memperturutkan hawa nafsu hingga terpuaskan. Padahal sesungguhnya jika ditanya setiap wanita pasti ingin menjadi sholihah, ingin menjadi wanita baik-baik. Tapi mereka lupa bahwa untuk  menjadi wanita sholihah dan baik-baik tidak cukup hanya dalam kata. Harus lebih dari itu, yaitu dibuktikan lewat perbuatan. Perbuatan yang tidak melanggar dan melawan aturanNya. Perbuatan yang penuh ketaatan secara mutlak pada hukum Alloh. Alloh berfirman,” Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3)

Firman Alloh itu harus benar-benar disadari oleh setiap muslimah. Bahwa ternyata untuk menjadi sholehah dibutuhkan upaya lebih dan usaha maksimal untuk senantiasa mengikatkan hati, lisan, pikiran dan perilaku pada hukum Alloh. Harus memilih untuk tidak bermaksiat, tidak mengikuti hawa nafsu yang nyata bertentangan dengan perintah Alloh. Harus sadar memilih menjalankan seluruh kewajiban yang dibebankan Alloh pada setiap manusia, apapun peran yang dilakoni. Peran sebagai anak, istri, ibu, saudara dan lain-lain. Untuk menjadi wanita sholihah ternyata harus diuji dan dicoba dulu agar terseleksi siapa benar dan siapa dusta imannya.

Setiap diri kita juga harus sadar untuk memilih menjadikan hati dalam diri sebagai hati yang sehat (qolbun salim) yang senantiasa berdzikir kepada Alloh dalam lisan dan tindakan. Sebab hati adalah sumber segala perbuatan yang kita lakukan. Sebuah hadits menyatakan, ” Dalam diri anak Adam itu ada segumpal daging. Bila baik daging itu baiklah seluruh anggota dan seluruh jasad. Bila jahat dan busuk daging itu jahatlah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.” (Riwayat Al Bukhari & Muslim)

Betapa berharganya sekeping hati. Karena hati lah ternyata yang akan mempengaruhi perasaan, pikiran, lisan dan perbuatan. Hatilah yang akan menuntun langkah untuk memilih menjadi  manusia yang benar beriman ataukah iman sekedar dalam retorika.

Sekeping hati harus dijaga agar selalu sehat, tidak sakit, apalagi jika sampai mati. Dan ini bukanlah hal yang mudah. Hati seringkali khilaf dipenuhi dengan hasad dan dengki, benci dan dendam yang tidak terhingga sehingga mampu menggerakkan mulut, mata, pikiran, tangan dan kaki untuk bekerja tanpa mengikuti akal. Karena hati, banyak yang terjatuh dalam lembah kedurhakaan, kesombongan dan kemaksiatan. Dari sekeping hati yang suci mampu berubah menjadi onak dan duri. Banyak hati yang awalnya penuh dengan cinta, kelembutan dan kasih sayang. Namun karena tidak dijaga dari tebasan pedang hawa nafsu kala Alloh menghadirkan “Ujian”, hati berubah menjadi sakit bahkan mati.  Hati dipenuhi dendam, dengki, amarah, dan keangkuhan hingga akhirnya membawa kehancuran pada diri sendiri. Mampu melunturkan iman dan ketaqwaan.

Setiap manusia beriman pastilah tak menginginkan kondisi hati yang “merana” seperti itu. Oleh karena itu, kita sebagai pemilik hati harus rela berlelah-lelah untuk terus menjaga, mendidik dan membiasakan hati selalu mengingat Alloh. Seperti dalam firmanNya, ” Ingatlah, hanya dengan mengingatku hati menjadi tenang (QS Ar-Rad : 28). Mengingat Alloh haruslah setiap saat, siang malam, dalam lisan, pikiran dan perbuatan. Pastikan setiap langkah adalah menetapi jalanNya. Tak satupun perbuatan terlarang dipilih untuk dilakukan. Kembalikan semua hal pada Sang Pemilik Hidup dengan seperangkat aturanNya yang sempurna, niscaya hati akan selamat. InsyaAlloh. Wallohu’alam.

Muslimah Terbaru

blog comments powered by Disqus