Idul Fitri = Konsumtif ?

Redaksi – Kamis, 1 Syawwal 1434 H / 8 Agustus 2013 08:40 WIB

obralAdakah dari Anda yang saat ini terkaget-kaget melihat pengeluaran uang untuk keperluan Idul Fitri ? Yang jumlahnya ternyata sangat besar, diluar perkiraan dan perhitungan Anda. Akibatnya, Anda pun mau tidak mau harus menarik kembali uang tabungan untuk memenuhi kebutuhan sampai akhir bulan ini. Padahal tabungan itu mungkin dana yang tidak boleh diutak-atik karena memang disediakan untuk keperluan masa depan keluarga Anda.

Pada hari-hari besar seperti Idul Fitri, banyak orang yang “mendadak” konsumtif–atau memang pada dasarnya sudah punya sifat konsumtif–membeli apa saja yang diinginkan dan berlindung dibalik alasan “Tak apalah, buat Lebaran, setahun sekali.” Banyak orang yang jadi permisif untuk membeli barang-barang yang serba baru; baju, sepatu, taplak meja, gordin jendela, toples kue, dan lain sebagainya, yang terkadang justru menghambarkan makna Idul Fitri itu–atau hari besar Islam lainnya–itu sendiri.

Di luar hari-hari istimewa itu pun, tanpa sadar kita sudah mempraktekkan budaya konsumtif. Apalagi kalau kita sedang mendapatkan rezeki yang berlebih. Islam tidak melarang umatnya untuk mensyukuri rezeki yang diberikanNya dengan memanfaatkan rezeki itu untuk kesenangan diri, tapi Islam juga mengajarkan pemanfaatan rezeki berlebih itu dengan rasa tanggung jawab, yaitu tidak menghambur-hamburkannya secara berlebihan dan menyisihkan sebagiannya untuk kaum duafa.

Kekayaan (harta) dan kemiskinan posisinya sama dalam Islam, sama-sama merupakan ujian bagi manusia. Kekayaan bisa mengantarkan manusia masuk surga, sebagaimana kekayaan juga bisa mengantarkan manusia masuk neraka. Begitu pula dengan kemiskinan.

Masyarakat Muslim berbeda dengan masyarakat Barat non-Muslim yang memandang konsumerisme dan konsumsi sebagai cabang dari budaya kebebasan. Kualitas seorang manusia dalam Islam, bukan dinilai dari seberapa banyak kekayaan dan barang-barang bagus yang dimilikinya, tapi dari ketakwaannya pada Allah Swt. Inilah yang kadang membuat kita lupa, sehingga banyak Muslim yang lebih senang mengumbar kekayaannya untuk memuaskan egonya pada barang-barang mewah, membeli apa saja yang diinginkan meski barang itu sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan..

Rasulullah Muhammad Saw mencontohkan kerendahan hati dan sangat mencintai cara hidup yang sederhana. Beliau menghindari gaya hidup yang materialistis meski kekayaan dan pengaruhnya membuka peluang baginya, misalnya untuk membangun sebuah rumah yang megah dan mewah, namu beliau tinggal di sebuah rumah dengan perabotan yang serba sederhana. Tidak seperti kebanyakan kita saat ini, Rasulullah Saw menjauhkan diri untuk memfokuskan hidupnya untuk mengejar materi.

Budaya konsumtif yang berkembang saat ini, membuat banyak orang menunjukkan kesuksesannya dengan kepemilikan harta benda. Kadang mereka berperilaku ekstrim dengan tidak segan-segan meminjam uang hanya untuk membeli barang mewah yang diinginkannya, untuk kesenangan sesaat dan menampakkan dirinya lebih “berpunya” dari orang lain. Iklan-Iklan aneka barang yang mengepung kehidupan kita dan menjanjikan “kehidupan yang lebih baik” jika kita mau membelanjakan uang yang kita cari dengan susah payah dengan barang-barang tersebut. Kesenangan menghabiskan waktu santai dengan jalan-jalan ke mal ikut memberikan kontribusi bagi kebiasaan hidup konsumtif, karena jika jalan-jalan ke mal, meski rencananya cuma “lihat-lihat” saja, pasti pulangnya membawa satu atau dua barang yang dibeli, tergoda oleh barang-barang keluaran baru yang dipajang di etalase toko atau oleh iming-iming diskon besar yang ditawarkan pusat-pusat perbelanjaan.

Sejatinya, kekayaan materi dan kemewahan adalah penyakit konsumtif yang menimpa banyak orang. Tidak ada vaksin atau imunitas terhadap penyakit konsumtif ini. Tapi seperti kata bijak “mencegah lebih baik daripada mengobati”, hanya itu yang bisa dilakukan untuk menjaga kekebalan tubuh dari penyakit budaya konsumtif. Banyak cara yang bisa dilakukan sebagai upaya menjauhkan diri dari konsumerisme, salah satunya tidak tergoda untuk membuat kartu kredit atau kartu keanggotaan yang ditawarkan pusat-pusat perbelanjaan. Kelebihan rezeki dan harta yang kita punya akan lebih bermanfaat jika kita jadikan sedekah untuk mengejar pahala dan bukan materi serta mulai menanamkan pola hidup “nikmati hal-hal yang sederhana dalam hidup ini”. (red/muslimasoasis)

Muslimah Terbaru

blog comments powered by Disqus